Logo Taninews.com - media informasi dan hobi pertanian

Dampak perang Rusia – Ukraina, harga gandum meroket

 Admin Satu  Penulis   Karawang   9/03/2022  diubah:24/03/2022 at 11:52     Berita   

Dampak perang Rusia – Ukraina, harga gandum meroket
Photo by: Unsplash.com/Miles Burke. url: https://unsplash.com/@milesb

Dampak perang Rusia – Ukraina mulai terasa, harga gandum di psaaran inrenasional mulai naik. International Grains Council (IGC) Market Indicator mencatat harga gandum di pasar global per Maret 2022 mencapai US$ 335 per ton. Harga komoditas tersebut melonjak 46 persen ketimbang periode serupa tahun lalu sebesar US$ 229 per ton.

Gandum adalah bahan pembuat Mie instal dan roti, Indonesia sebagai pengguna mie instant nomor dua di dunia akan merasakan dampaknya. Hal ini tentu akan berdampak pada kenaikan komoditi lainnya. karena masyarakat akan melakukan substitusi.

IGC Market Indicator menyebutkan perang Rusia-Ukraina yang belakangan menimbulkan ketegangan di Laut Hitam turut memicu melejitnya harga gandum di pasar dunia. Ketegangan di Laut Hitam tersebut bahkan telah mendongkrak sub-indeks gandum sebesar 12 persen hingga hampir mendekati puncaknya selama 14 tahun terakhir.

Hal senada juga diungkapkan Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira. Menurutnya, mayoritas kenaikan harga pangan di dalam negeri, merupakan implikasi dari terhambatnya perdagangan antara Indonesia dengan Ukraina dan Rusia.

Ukraina merupakan pemasok gandum terbesar bagi Indonesia. Sebaliknya bagi Ukraina, Indonesia adalah negara tujuan ekspor gandum terbesar kedua di dunia setelah Mesir. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Ukraina memasok 2,96 juta ton gandum atau setara 27% dari total 10,29 juta ton yang diimpor Indonesia pada 2020. Adapun stok gandum nasional saat ini dilaporkan masih sekitar 2 juta ton. Stok tersebut diklaim bakal bertahan hingga April 2022.

Bhima mengatakan kenaikan harga gandum cepat atau lambat akan berdampak pada konsumen di Indonesia, mengingat gandum merupakan bahan baku dari produk pangan seperti mi instan dan terigu.

Indonesia sendiri merupakan negara pengonsumsi mi instan terbesar kedua di dunia, dengan total 12,6 miliar porsi pada 2020.

“Dampaknya harga bisa naik, berat bersih produk berkurang, atau menurunkan kualitas,” kata Bhima seperti dikutip BBC News Indonesia, Jumat (04/03).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Profile

foto user
Admin Satu
 Penulis   Karawang

Ini adalah administrator satu. Bertanggungjawab menangani pengaturan website seperti mengunggah artikel, memperbaiki tampilan, menambah fungsi, mengubah role anggota, dll.

Lihat Profil
Belum menjadi anggota?
Daftar di sini

Tulisan dari Admin Satu


Terkait

Ramai-ramai tolak impor beras
 Admin Satu  Penulis   Karawang

Ramai-ramai tolak impor beras


  7/03/2022   Berita