Logo Taninews.com - media informasi dan hobi pertanian

Mengenal pertanian organik

 Admin Satu  Penulis   Karawang   11/07/2024  diubah:18/07/2024 at 21:20     Pertanian Organik   

Mengenal pertanian organik
Soil food web. Foto: RICHARD BRACKIN

Pertanian organik adalah sistem budidaya pertanian yang memanfaatkan bahan-bahan alami dan proses alami dalam memelihara kesehatan, kesuburan tanah dan tanaman. Pertanian organik menghindari penggunaan bahan-bahan kimia sebagai penyubur (pupuk) maupun pembasmi hama (pestisida).

Filosofi yang pertanian organik adalah mengembangkan prinsip-prinsip memberi makanan pada tanah, selanjutnya tanah memberi makanan pada tanaman, dan bukan memberi makanan langsung pada tanaman (feeding the soil that feeds the plant)

Jadi berbeda dengan pertanian konvensional yang memberikan pupuk kepada tanaman, pertanian organik memberi makan kepada tanah (menyuburkan tanah). Tanah yan sehat dan kaya unsur hara ini yang akan menjadikan tanaman juga sehat dan subur.

Pertanian organik memandang tanah sebagai sebuah sistem kehidupan yang di dalamnya berjalan suatu siklus dengan aneka mahkluk hidup penghuninya. Ada tanaman, bakteri pengurai, jamur, hewan di bawah tanah, serangga, hama, gulma, dll.

Dalam menyuburkan tanah, pertanian organik tidak hanya bergantung kepada pupuk (input dari luar) tapi juga membuat tanah bisa menyuburkan dirinya sendiri. Dengan menjaga organisme tanah maka bahan-bahan organik yang ditambahkan bisa diurai dan menghasilkan unsur hara yang bisa diserap tanaman.

Demikian juga dalam pengendalian hama (organisme pengganggu tanaman), pertanian organik tidak hanya tergantung kepada pestisida namun juga dengan memanfaatkan musuh alami hama, dengan tanaman pengalih, tanaman pemerangkap, tanaman pelindung, dll.


Prinsip dasar pertanian organik

1. Kesehatan tanah
Kesehatan tanah sangat penting dalam pertanian organik. Untuk menjaga kesuburan tanah, bisa dengan dengan menambahkan pupuk organik, kompos, mengembalikan biomassa tanaman kembali ke tanah, dengan tanaman penutup, dan rotasi tanaman.

2. Pencegahan hama dan penyakit
Pertanian organik lebih menngedepankan pencegahan daripada pemberantasan. Pendekatan pengendalian hama terpadu bisa menggunakan predator alami hama. Penggunaan pestisida kimia bisa membuat baik hama maupun predator hama mati, sehingga petani menjadi sangat tergantung kepada pestisida kimia. Musuh alami hama akan mengurangi populasi hama. Sementara untuk pemberantasan hama menggunakan pestisida organik yang lebih ramah lingkungan. Tak kalah penting menjalankan budidaya pertanian yang sehat untuk mengendalikan hama dan penyakit.

3. Keanekaragaman hayati
Mendukung keanekaragaman hayati di lahan pertanian untuk meningkatkan kesehatan ekosistem.

4. Konservasi air
Menerapkan praktik irigasi yang efisien dan menjaga kelestarian sumber air.

5. Keadilan sosial dan ekonomi
Memastikan praktik pertanian yang adil dan menguntungkan bagi petani, pekerja, dan konsumen.

Di tengah pesatnya sistem pertanian konvensional yang memanfaatkan pupuk kimia dan pestisida kimia, melakukan sistem pertanian organik mempunyai tantangan tersendiri, apalagi jika dilakukan di lahan yang dikelilingi lahan pertanian konensional.

Misalnya dalam pemberantasan hama. Pembasmian hama menggunakan pestisida organik kurang ampuh jika dibandingkan pestisida kimia, akibatnya lahan dengan pertanian organik bisa menjadi sasaran serangan hama.

Demikian juga dalam menggunakan pupuk, pupuk kimia lebih cepat terlihathasilnya dibanding pupuk organik. Ini juga menjadi hamabatan dalam adopsi sistem pertanian organik bagi para petani. Bagi banyak petani, masuk akan kalau banyak yang ebih memilih mendapatkan hasil panen yang tinggi daripada kelestarian lingkungan. Ini soal hajat hidup dan ekonomi.

Jadi pendekatan kelestarian lingkungan akan terasa jauh dari realita kehidupa sehari-hari petani. Pendekatan ekonomi lebih tepat dilakukan, misalnya dengan kampanye kalau mempratekkan pertanian organik bisa sangat menghemat biaya dengan panen yang setara atau bahkan melebihi pertanian konvensional.

Beberapa strategi berikut dapat diterapkan untuk meningkatkan peluang keberhasilan pertanian organik:

1. Membangun pembatas
Pembatas alami diperlukan untuk mengurangi interaksi dengan sawah sekitar yang masih mempraktekkan pertanian konvensional, misalnya tersebarnya pestisida, herbisida, maupun hama yang menghindari penyemprotan pestisida.

Beberapa yang bisa diterapkan antara lain:

  • Membangun pagar atau pematang di sekitar sawah organik untuk mencegah hama dari sawah lain masuk.
  • Menanam tanaman repelent di sekitar sawah organik, seperti serai, bawang putih, atau kemangi, yang dapat mengusir hama.
  • Menanam tanaman refugia di sekeliling sawah organik, seperti bunga kenikir, marigold, bunga kertas, bunga matahari, dll. Tanaman ini bisa menarik serangga musuh alami hama sehingga hama bisa berkurang

2. Meningkatkan ketahanan tanaman

  • Memilih varietas tanaman yang lebih tahan hama dan penyakit.
  • Menerapkan praktik budidaya yang baik, seperti rotasi tanaman, pengolahan tanah yang tepat, dan pemberian pupuk organik, untuk meningkatkan kesehatan tanaman dan ketahanannya terhadap hama.

3. Pengendalian hama secara alami

  • Memanfaatkan predator alami hama, seperti burung hantu, laba-laba, dan kumbang ground beetle.
  • Menerapkan pestisida nabati atau pestisida hayati yang ramah lingkungan untuk mengendalikan hama.
    menerapkan metode tumpang sari/companion planting dengan tanaman pengusir hama atau yang mengeluarkan aroma yang tidak disukai hama tertentu, sehingga tercipta kondisi saling menguntungkan bagi tanaman sekaligus meningkatkan hasil panen untuk petani.
  • Menggunakan agen hayati sebagai pengendali hama, seperti jamur trichoderma untuk mengurangi serangan fusarium atau layu.

4. Membangun komunitas

Membangun komunitas petani organik sangat penting. Misalnya bisa dilakukan dengan mengajak petani dengan lahan berdekatan untuk bertani organik segingga luas sawah organi meningkat. Dengan komunitas maka akan terjadi pertukaran informasi seputar pertanian organik, perawatan tanaman secara organik, kendala, dan pemecahan masalah.

  • Bergabung dengan komunitas petani organik untuk saling berbagi informasi dan pengalaman dalam mengatasi hama.
  • Bekerja sama dengan petani lain di sekitar untuk mengendalikan hama secara bersama-sama.

Saat ini banyak sistem buddaya pertanian organik di dunia.
Contoh sistem/ framework pertanian organik
1. KNF (Korean Natural Farning)
2. Jadam (mengklaim sebagai pertanian yang berbiaya sangat rendah – Ultra Low Cost)

Contoh produk yang berkaitan dengan pertanian organik
1. Biosaka
2. Jakaba (Jamur Keberuntungan Abadi).
3. JMS (Jadam Micororganism Solution)
4. JLF (Jadam Liquid fertilizer)
5. Pupuk organik cair
6. Jamur mikoriza
7. Jamur trichoderma

Peluang pertanian organik
Pertanian organik mempunyai peluang menjaid sistem pertanian berbiaya rendah yang bisa menjadi pilihan petani. Pertanian organik bisa menggunakan bahan-bahan yang ada di sekitar kita. Bahan-bahan limbah pertanian maupuan rumah tangga bisa dimanfaatkan sebagai bahan pembuat pupuk maupun pestisida nabati.

Untuk membuat pupuk, petani bisa memanfaatkan tanaman sisa panen untuk diproses menjadi kompos maupun pupuk organik cair. Petani juga bisa memanfaatkan kotoran hewan seperti sapi, kerbau, babi, maupun ayam sebagai bahan pembuat kompos.

Petani juga bisa menggunakan bahan sisa tanaman seperti jerami padi sebagai mulsa organik. Mulsa dari jerami padi akan diurai secara almi dan menjadi penambah unsur hara tanah.

Petani juga bisa memanfaatkan tanaman pnutup tanah untuk mengurangi penguapa (sebagau mulsa) maupun sebagai tanaman pengikat nitrogen.

Petani bisa memanfaatkan tanaman dan buah sebagai pestisidan nabati, seperti serai wangi, daun mimba, buah buah mengkudu, dll.

Dengan konsep mengembalikan kesuburan tanah, pertanian organik memerlukan sedikit tambahan pupuk karena tanah sudah subur. Ini akan mengemat biaya.

Tantangan pertanian organik

Dikutip dari website Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, pertumbuhan pasar organik semakin pesat baik pasar internasional maupun pasar domestik. Pasar produk organik dunia meningkat 20% pertahun. Berdasarkan Data Statistik dan Tren Organik 2015 yang diterbitkan oleh Research Institute of Organic Agriculture (FIBL) dan International Federation of Organik Agriculture Movements (IFOAM) di BIOFach 2015, Amerika Serikat merupakan pasar organik terbesar di dunia sebesar USD 27,04 M, diikuti dengan Jerman (USD 8.45 M), Perancis (USD 4.8 M) dan Tiongkok (USD 2,67 M).

Sementara di Indonesia, sampai dengan tahun 2015 jumlah poktan/gapoktan beras yang sudah mendapatkan sertifikasi organik adalah 100 poktan/gapoktan padi organik bersertifikat, tersebar di 15 Provinsi (Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jambi, Lampung, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Bali, NTT, NTB, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah).

Dari data di atas, adopsi pertanian organik di Indonesia masih rendah jika dibandingkan dengan pertanian konvensional.

Salah satu kendala dalam pertanian organik adalah persepsi bahwa pertanian organik itu mahal. Apalagi saat ini, gaya hidup organik menjadi tren yang lebih merujuk ke gaya hidup kalangan menengah ke atas. produk-produk berlabel organik juga dijual dengan harga yang lebih mahal dibanding produk konvensional.

Dikutip dari talksustainable.com, gaya hidup organik dapat menjadi alat untuk lebih ramah dengan lingkungan. Jika melihat dari banyaknya masyarakat di Indonesia yang menerapkan gaya hidup organik pada masa kini, maka dapat dipastikan jika penggunaan produk alami berbahan organik yang dikonsumsi akan lebih ramah lingkungan.

Masalah lingkungan kurang mengena bagi banyak petani kecil yang masih bergelut dengan kesejahteraan. Petani kecil lebih tertarik dengan pupuk murah, panen melimpah, harga komoditas pertanian naik, sehingga bisa mengangkat kesejahteraan petani.

Pertanian organik juga dinilai lebih merepotkan. Pertanian organik menghindari penggunaan pestisida kimia, diganti dengan pestisidan nabati atau manual. Ini membutuhkan usaha, waktu, tenaga yang lebih dibanding menggunakan obat-obatan kimia.

Pertanian organik juga memerlukan waktu yang lebih panjang untuk mendapatkan hasil yang baik. Pertanian organik ingin mengembalikan kesuburan tanah dengan cara alami, misalnya penambahan mikroba tanah, tanaman, sehingga tanah menjadi subur. Ini membutuhkan waktu yang lebih lama. Berbeda dengan pertanan konvensional dengan pupuk kimia yang seprti obat ajaib, begitu diberikan, hasilnya lebih cepat terlihat.

Praktek pertanian organik sangat diperlukan untuk mengembalikan kesuburan tanah pertanian di Indonesia. Saat ini teknologi ini belum digunakan secara luas oleh para petani di Indonesia. Tantangan yang ada saat ini adalah meyakinkan petani bahwa bertani secara organik bisa menghasilkan panen yang setara bahkan lebih tinggi dari bertani secara konvensional. Selain itu, bertani organik bisa menggunakan bahan-bahan yang ada di sekitar kita sebagai pupuk maupun pestisida sehingga hemat biaya. Contohnya metode Jadam yang mengklaim sebagai metode pertanian yang ultra low cost (sangat hemat biaya).

Dengan biaya yang hemat petani berpeluang mendapatkan penghasilan yang lebih tinggi. Dengan memanfaatkan bahan-bahan yang ada di sekitar kita, petani organik bisa lebih merdeka dari ketergantungan produsen pypuk, pestisida, bahkan bibit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Profile

foto user
Admin Satu
 Penulis   Karawang

Ini adalah administrator satu. Bertanggungjawab menangani pengaturan website seperti mengunggah artikel, memperbaiki tampilan, menambah fungsi, mengubah role anggota, dll.

Lihat Profil
Belum menjadi anggota?
Daftar di sini

Tulisan dari Admin Satu


Terkait

Pupuk Organik Bokashi Sejuta Manfaat
 Muhammad Nur  Penyuluh Pertanian   Sentani,Jayapura,Papua

Pupuk Organik Bokashi Sejuta Manfaat


  18/07/2024   Pertanian Organik,Tutorial