Logo Taninews.com - media informasi dan hobi pertanian

Tradisi menanam padi orang Tobaru, Halmahera

 Admin Satu  Penulis   Karawang   6/04/2022  diubah:21/05/2023 at 12:05     Ragam   

Tradisi menanam padi orang Tobaru, Halmahera
Martha, perempuan Tobaru sedang membersihkan kebun. Foto: M Ichi/ Mongabay Indonesia

Lembaga adat Tobaru merupakan lembaga adat yang membawahi suku setempat yang mendiami sebagian besar Halmahera Barat, beberapa desa di Halmahera Utara dan Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara. Masyarakat Tobaru atau orang Tobaru sangat menjunjung tinggi nila-nilai kekeluargaan dengan slogan “nou po maka dora” yang artinya mari kita semua saling membantu.

Kehidupan orang Tobaru masih dekat dengan alam dan tidak bisa dilepaskan dari hutan dan kebun. Begitu penting kebun dan hutan itu bagi orang Tobaru bisa terlihat dari pegangan hidup mereka dalam bahasa lokal. “Obongana gena mia wawango ma ugulu ka gengino o orasa nena si ado-ado nika o ngoka deo dononguku.” Ia berarti,” hutan itu sumber hidup kami dari dulu, sekarang hingga anak cucu.” (Machmud Ichi, 2021).

Masyarakat Tobaru masih kuat ikatan solidaritasnya, ini tercermin dalam pembukaan lahan baru mereka juga punya tradisi gotong-royong yang dinamakan wange mia makakaesa atau saling membantu membuat kebun. Mereka juga mempercayai bahwa alam mempunyai kekuatan.

Sebagai sebuah masyarakat yang terpengaruh perkembangan jaman, budaya makan orang Tobaru juga berubah. dahulu orang Tobaru mengonsumsi karbohidrat dari sumber pisang, popeda atau sagu, baru nasi. Tapi sekarang nasi menjadi makanan utama orang Tobaru.

Dalam budaya menanam padi, orang Tobaru mempunyai tradisi menanam padi dengan benih padi lokal yang dikembangkan turun-temurun. Padi yang ditanam orang Tobaru ada nama lokalnya, tapi lebih dikenal dengan nama padi alus. Saat ini, yang banyak ditanam ada jenis pulo lenso, gamtala, pangalo, bidoi, padi aluss, bugis atau kayeli. Beras dari padi lokal warga Tobaru dan masyarakat Maluku Utara kenal dengam istilah bira sung atau beras baru. (Machmud Ichi, Mongabay)

Mereka menanam padi dengan cara yang masih alami, yaitu tidak menggunakan pupuk dan pestisida. Istilah modernnya itu pertanian organik, padahal orang Tobaru sudah mempraktekkannya turun-temurun.

Mereka menanam tanaman bergantian dengan sistem perladangan yang dinamakan Jorame. Untuk membuka kebun baru ada prosesi yang harus dilaksanakan, warga bergotongroyong membuat kebun baru. Untuk tanaman pertama biasanya adalah padi. Setelah padi panen, nanti akan digantikan dengan tanaman tahunan seperti pisang, pala, maupun kelapa. Setelah itu dibiarkan menjadi hutan sekunder.

Ladang akan dibuka lagi 10-15 tahun berikutnya untuk dijadikan kebun dan ditanami padi atau tanaman pangan lain. Mereka percaya, praktik ini untuk mengembalikan kesuburan tanah.

Begitulah, kearifan lokal masyarakat Tobaru dalam menanam padi. Mereka masih mempraktekkan cara alami yaitu dengan benih lokal yang dikembangkan turun-temurun, tidka memakai pestisida dan pupuk. Cara ini masih alami dan ramah terhadap lingkungan.

sumber: www.mongabay.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Profile

foto user
Admin Satu
 Penulis   Karawang

Ini adalah administrator satu. Bertanggungjawab menangani pengaturan website seperti mengunggah artikel, memperbaiki tampilan, menambah fungsi, mengubah role anggota, dll.

Lihat Profil
Belum menjadi anggota?
Daftar di sini

Tulisan dari Admin Satu


Terkait

Pesta Adat Ponan di Sumbawa, doa agar panen padi melimpah
 Admin Satu  Penulis   Karawang

Pesta Adat Ponan di Sumbawa, doa agar panen padi melimpah


  11/03/2022   Ragam 
Upacara Seren Taun
 Admin Satu  Penulis   Karawang

Upacara Seren Taun


  9/03/2022   Ragam 
Upacara Penti di NTT, ungkapan syukur atas panen
 Admin Satu  Penulis   Karawang

Upacara Penti di NTT, ungkapan syukur atas panen


  9/03/2022   Ragam