Logo Taninews.com - media informasi dan hobi pertanian

Harga cabai meroket

 Admin Satu  Penulis   Karawang   7/06/2022      Berita   

Harga cabai meroket
Foto ilustrasi: Penjual cabai rawit di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta, Rabu (23/2/2022). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Harga cabai di beberapa pasar tradisional di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan DKI Jakarta meroket. Kenaikan ini disebabkan karena berkurangnya pasokan akibat gagal panen atau produksi yang menurun. hal ini disebabkan kerena cuaca yang menyebabkan tanaman cabai banyak yang rusak.

Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPSN), pada hari ini, Senin (6/6/2022), harga cabai rawit dijual Rp 75.600 per kg. Harga tersebut melonjak 24,3% dibandingkan pekan sebelumnya.

Kemudian harga cabai merah keriting dibanderol Rp 57.100 per kg atau naik 10% dibandingkan pekan sebelumnya. Di Kalimantan Utara dan DKI Jakarta, harga cabai rawit merah bahkan menembus Rp 100.000 per kg.

Di Jawa Tengah, data dari Tim Pengendali Inflasi Jawa Tengah harga cabai rawit di Kota Semarang tembus Rp80 ribu per kg. Kemudian di Kota Surakarta harga cabai rawit bahkan di angka Rp83 ribu per kg. Kenaikan harga tersebut terjadi dalam sepekan, di mana kisaran kenaikan mencapai Rp15 ribu hingga Rp20 ribu per kg.

Untuk Jawa Barat, di Karawang, harga cabai rawit mencapai Rp100ribu per kg, sementara untuk cabai keriting Rp70ribu per kg. Di Pasar Kosambi, Jalan A Yani, Kota Bandung, harga cabai merah naik dari Rp40.000 kini menjadi Rp60.000-Rp70.000.

Sementara itu di Jawa Timur, berdasarkan data Sistem Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) Jawa Timur, harga rata-rata cabai rawit Rp85.036 per kilogram. Harga rata-rata tertinggi cabai rawit Rp96.500 per kg di Pasuruan. Sedangkan harga rata-rata terendah Rp74.333 per kg di Situbondo. Di Pasar Genteng, Keputran, dan Tambahrejo, Surabaya, harga cabai rawit mencapai Rp 85 ribu per kg.

Menurut Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto, kenaikan harga cabai disebabkan oleh faktor cuaca. Akibat fenonema La Nina yang masih terasa, musim hujan berlangsung lebih lama sehingga banyak tanaman yang mati atau rusak. Musim hujan juga membuat musim tanam bergeser dari yang seharusnya, yakni setelah Maret-April.

“Ini persoalan cuaca, nggak bisa diapa-apain. Cabai itu kan tanaman yang maunya ada air tapi tidak berlebihan. Kalau berlebihan tidak bagus,” tutur Prihasto, seperti dikutip CNBC Indonesia.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pekan lalu, menjelaskan fenomena La Nina masih kuat hingga Mei sehingga musim kemarau mundur dan hujan masih terjadi di bulan Mei. Dia menambahkan musim panen raya cabai seharusnya terjadi Maret-April. Musim hujan yang lebih panjang ini membuat banyak tanaman rusak.

Hal ini juga diakui Ketua Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI) Abdul Hamid yang mengatakan petani terpaksa menggeser musim tanam cabai pada tahun ini karena cuaca.

Musim tanam yang paling bagus bagi tanaman cabai adalah Maret, April, dan Mei. Karena musim hujan yang berkepanjangan, musim tanam massal kemungkinan bergeser ke bulan September atau Oktober.

“Sekarang ada yang tetap menanam cabai, dua bulan ke depan ada yang panen. Tapi yang tanam sekarang agak khawatir karena musimnya seperti ini. Kalau hujan terus ya bisa lewat,” tutur Hamid, seperti dikutip CNBC Indonesia.

Selain cabai, harga-harga kebutuhan dapur yang lain juga mengalami kenaikan. Telor ayam ras, daging sapi, dan bawang merah tercatat mengalami kenaikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Profile

foto user
Admin Satu
 Penulis   Karawang

Ini adalah administrator satu. Bertanggungjawab menangani pengaturan website seperti mengunggah artikel, memperbaiki tampilan, menambah fungsi, mengubah role anggota, dll.

Lihat Profil
Belum menjadi anggota?
Daftar di sini

Tulisan dari Admin Satu